Sunday, June 21, 2009

Korban AF 447 Diberi Kompensasi

PARIS - Air France akan memberikan kompensasi kepada keluarga korban kecelakaan Air France AF 447 yang jatuh di Samudera Atlantis pada 1 Juni lalu dan menewaskan 228 orang.

Kompensasi itu akan diberikan melalui asuransi perusahaan. AF 447 dari Rio de Janeiro (Brasil) menuju Paris (Prancis) jatuh ke Samudera Atlantik setelah terbang melalui badai. Penyebab kecelakaan belum diketahui. Kapal-kapal Brasil dan Prancis masih menyisiri samudera itu untuk mencari serpihan dan mayat korban. "Sekarang kami akan berkonsentrasi pada langkah pertama yang akan dibayar kepada tiap korban, kira-kira 17.500 euro (sekitar Rp253,6 juta)," ujar CEO Air France Pierre-Henri Gourgeon kepada radio RTL.

"Pengacara asuransi kami di tiap negara akan bicara kepada keluarga korban untuk berusaha dan mengatur pembayaran ini." Gourgeon menyebut kompensasi itu sebagai simpati dari perusahaan, bukan pengakuan atas tanggung jawab. Diketahui, penumpang pesawat nahas itu berasal dari 32 negara, dengan 61 di antaranya dari Prancis dan 58 dari Brasil. Pierre-Jean Vandoorne, duta yang ditunjuk Pemerintah Prancis untuk berhubungan dengan keluarga korban pesawat Airbus A330 itu mengatakan bahwa kompensasi itu sebagai bantuan pertama.

"Kalau kabar yang saya terima ini benar, maka perusahaan asuransi AXA yang akan menghubungkan Air France dan keluarga korban pada aspek konsekuensi kecelakaan ini," tandasnya. "Yang saya ketahui sejauh ini, kompensasi ini tidak akan menjadi halangan terhadap gugatan sipil," ujarnya saat menjawab pertanyaan tentang apakah dengan menerima ganti rugi itu keluarga korban tidak lagi punya hak menggugat Air France.

Menurut Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), tidak ada bukti yang cukup menguatkan untuk mengganti sensor kecepatan udara pada semua pesawat Airbus A330 setelah kecelakaan AF 447. "Sembari menunggu hasil investigasi kecelakaan, kami meneruskan evaluasi teknis kami, yang mana saat ini tidak memberikan langkah mandat spesifik," kata Daniel Hoeltgen dari Cologne, EASA yang berbasis di Jerman. Investigator Prancis yang menyelidiki kecelakaan AF 447 mengatakan sensor kecepatan udara atau pitot memberikan informasi yang tidak konsisten kepada kokpit.

Data kecepatan udara yang tidak konsisten menyebabkan pilot otomatis mati. Dan dalam kasus yang ekstrem, pesawat berhenti atau terbang dengan kecepatan berbahaya, kemungkinan menyebabkan pesawat pecah di ketinggian yang sangat tinggi. Namun, biro Prancis yang memimpin investigasi bersama Airbus dan Air France mengatakan belum ada bukti nyata yang menghubungkan monitor kecepatan dan kecelakaan AF 447 itu. Air France telah meng-upgrade semua sensor di penerbangan jarak jauhnya sebagai langkah pencegahan setelah protes dari pilot.

Sejauh ini 228 orang yang berada dalam AF 447 dianggap telah meninggal dunia. Juga telah ditemukan 50 mayat korban bersama dengan ekor pesawat dan ratusan serpihan lain.

No comments:

Post a Comment